Menyelami Makna Alhamdu Lillahi Rabbil Alamin
Keempat, syukur atas kesehatan dan nikmat dunia. Sering kali manusia baru menyadari nikmat setelah kehilangannya. Rasulullah saw bersabda: “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Kesehatan adalah modal utama untuk beribadah dan berkarya. Dalam perspektif ulama, kesehatan bukan sekadar kondisi fisik, tetapi juga keseimbangan jiwa.
Al-Ghazali menjelaskan bahwa syukur atas kesehatan diwujudkan dengan menggunakannya dalam ketaatan, bukan maksiat. Tubuh yang sehat adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Kelima, syukur atas nikmat keberadaan Rasulullah saw. Salah satu nikmat terbesar yang sering terlupakan adalah bahwa Allah tidak membiarkan manusia hidup tanpa arah. Dia mengutus seorang teladan agung, yaitu Nabi Muhammad saw sebagai contoh nyata bagaimana menjalani kehidupan dengan benar. Allah Swt berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.”
Ayat ini menegaskan bahwa kehadiran Nabi ﷺ adalah rahmat dan nikmat yang wajib disyukuri, karena beliau bukan hanya pembawa wahyu, tetapi juga model hidup yang konkret.
Dengan diturunkannya Nabi Muhammad saw, maka kaum dalam menjalani hidup tidak bingung dan meraba-raba. Rasulullah mengajarkan kita bagaimana shalat, zakat, sedekah, menolong orang miskin/lemah, membela keadilan dan lain-lain. Tidak ada sisi kehidupan manusia yang tidak dicontohkan Nabi. Sebagai pemimpin, Rasulullah adil dan Amanah. Sebagai suami beliau lembut dan penuh kasih. Sebagai sahabat beliau setia dan jujur. Sebagai hamba, beliau paling tunduk kepada Allah. Inilah kesempurnaan yang tidak dimiliki oleh tokoh mana pun dalam sejarah. Rasulullah adalah pribadi yang sangat mulia,
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sungguh engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)
Manusia yang tidak memiliki teladan maka ia akan bingung menjalani kehidupan, akhlaknya akan rusak dan kehidupannya menjadi tanpa arah. Sebagaimana firman Allah:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
“Dan jika engkau menuruti kebanyakan manusia di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan (dugaan) semata, dan mereka hanyalah berdusta (mengira-ngira).” (QS. Al-An’am: 116)
Kita juga mengucapkan alhamdulillah, ketika diberi Allah ilmu, rezeki, istri dan anak yang shalih dan berbagai nikmat Allah di muka bumi ini.
Akhirnya kita tutup pembahasan tentang ayat kedua surah al Fatihah ini dengan mengutip Tafsir Fi Zhilalil Qur’an,






