Trump Pilih Damai dengan Iran
Kepentingan Strategis AS
Kenneth Roth, kolumnis Guardian dan visiting professor di Princeton School of Public and International Affairs, memberikan kritik keras kepada Trump di Guardian pada Senin (1/6/2026) bahwa Donald Trump yang mengaku telah menguasai Seni Bernegosiasi (The Art of the Deal) baru saja memberikan kelas master dalam ketidakmampuan bernegosiasi.
“His unprovoked war of choice has accomplished all of nothing.” Perang pilihannya yang tidak beralasan tidak mencapai apa pun, tulis Roth.
Terlepas dari itu, negosiasi AS-Iran ini penting untuk ‘menyelamatkan muka’ Trump dari perang yang tidak dimenanginya.
Langkah Trump yang akhirnya berdamai perlu dibaca dalam konteks kepentingan strategis AS yang lebih luas.
Dengan membuka kembali Selat Hormuz, AS ingin menstabilkan harga energi global menjelang musim panas dan mencegah lonjakan inflasi yang dapat merugikan ekonomi domestiknya. Namun, keputusan untuk berdamai dengan Iran bukan tanpa risiko.
Faksi garis keras di dalam negeri AS, serta sekutu tradisional seperti Israel dan Arab Saudi, kemungkinan akan menekan Trump agar tidak terlalu lunak.
Netanyahu yang disebut telah menyetujui pengaturan tersebut mungkin hanya bersikap taktis di depan publik. Selain itu, pertanyaan besarnya adalah konsesi apa yang diminta Iran sebagai imbalan.
Trump tidak menyebutkan konsesi apa pun yang diberikan AS, padahal Iran pasti akan memanfaatkan momen ini untuk meringankan sanksi atau mendapatkan pengakuan atas program nuklirnya.
Pernyataan Trump bahwa ia memilih damai dengan Iran adalah perubahan nada yang signifikan dari keras ke lunak, namun masih harus dibuktikan dengan tindakan nyata di lapangan.
Janji untuk mencapai kesepakatan dalam minggu depan terdengar ambisius mengingat kompleksitas isu yang mencakup gencatan senjata di Lebanon, pembukaan jalur pelayaran, hingga nasib program nuklir Iran.[]






