NUIM HIDAYAT

BEM Psikologi UI Ngawur, Kajian Ilmiah Buktikan Homoseksualitas Menyimpang

Kegagalan Teori Gen Tunggal

Aktivis liberal terus mempromosikan narasi bahwa homoseksualitas merupakan bawaan lahir (born gay) yang pertama kali dicetuskan Magnus Hirschfeld pada 1899. Namun, penelitian genetika modern selama puluhan tahun tidak pernah berhasil menemukan gen gay (gay gene) sebagai penyebab tunggal orientasi tersebut.

Kegagalan tersebut melahirkan teori epigenetik baru yang menyatakan homoseksualitas hanyalah ekspresi karakter fenotip akibat rangkaian mekanisme lingkungan tertentu. Pendapat ini diperkuat oleh riset Neil Whitehead yang menunjukkan variasi homoseksualitas tidak ditemukan pada budaya suku-suku tradisional yang terisolasi.

American Psychiatric Association sendiri pada Mei 2000 mengakui belum ada penelitian ilmiah yang berhasil direplikasi untuk mendukung etiologi biologis homoseksualitas. Bahkan, peneliti pro-LGBT seperti Dean Hamer tetap mengakui signifikansi faktor psikososial dan lingkungan dalam memicu perilaku seksual menyimpang tersebut.

Profesor psikiatri Columbia University, William Byrne dan Bruce Parsons, menegaskan ketiadaan bukti valid yang mendukung kebenaran teori biologis homoseksual. Klaim sepihak kaum liberal sengaja disebarluaskan secara masif semata-mata sebagai alat propaganda politik untuk memaksa masyarakat menerima perilaku menyimpang.

Kembali kepada Pendidikan Fitrah

Propaganda politik “lahir dengan cara seperti itu” (born that way) sengaja digemakan secara paralel dengan menjamurnya gerakan hak asasi manusia Barat. Kaum aktivis juga menggunakan label homofobik sebagai senjata psikologis untuk mengintimidasi masyarakat maupun pejabat publik yang menentang perilaku mereka.

Perubahan taksonomi pada International Classification of Diseases (ICD-10) oleh WHO tahun 1990 murni merupakan hasil dari konsensus politis semata. Sebagai instrumen pendataan profesional, perubahan taksonomi di dalam ICD maupun PPDGJ-III sama sekali tidak bisa dijadikan sebagai sumber kebenaran mutlak.

Seseorang tidak dilahirkan sebagai homoseksual, melainkan perilakunya dibentuk oleh faktor psikologis (psychogenic) dan lingkungan sosial (sociogenic). Oleh karena itu, penderita gangguan orientasi seksual ini sangat bisa disembuhkan melalui pendekatan medis serta penanganan psikologis yang tepat.

Penanganan psikologis yang islami dilakukan dengan membimbing mereka kembali pada fitrah kelelaki-lakian dan kewanitaan yang lurus sesuai ajaran agama. Pendidikan fitrah berbasis keluarga menjadi pilar utama yang harus ditegakkan oleh seluruh umat Islam demi menyelamatkan generasi masa depan. []

Nuim Hidayat, Redaktur Suaraislam.id.

Sumber: Dr Dinar Dewi Kania dkk, Transformasi Menuju Fitrah: LGBT dalam Perspektif Keindonesiaan, AILA Indonesia dan Dompet Dhuafa.

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button