Kekuatan Ilmu
Sehingga banyak timbul kontradiksi di peradabannya. Sementara mereka membuat produk-produk yang bermanfaat bagi manusia, bersamaan dengan itu mereka membuat produk-produk yang menghancurkan manusia sendiri. Mereka memproduksi banyak makanan, minuman, obat-obatan dll yang berguna pada manusia. Berbarengan dengan itu mereka membuat senjata-senjata militer, pesawat terbang, kapal induk, nuklir dan bom atom dll yang menghancurkan manusia sendiri.
Mereka menciptakan perang di Vietnam, Afghanistan, Irak, Iran, Libia, Suriah, Palestina dan lain-lain. Mereka merasa ras terbaik di dunia sehingga merasa berhak mengatur pemerintahan di negara manapun. Mereka merasa bahwa ilmu dan teknologi yang telah mereka ciptakan (temukan), adalah puncak dari penemuan manusia. Mereka juga merasa moral mereka yang terbaik di dunia, meski telah membunuh puluhan juta orang dalam sejarah pendirian negaranya.
Mereka merasa tidak berdosa, menjatuhkan bom atom di Nagasaki dan Hiroshima yang menelan korban ratusan ribu orang. Mereka tidak merasa berdosa ketika membunuhi ratusan ribu rakyat Vietnam. Mereka merasa tidak berdosa membunuhi ribuan rakyat Afghanistan. Merasa tidak berdosa membunuhi ratusan ribu rakyat Irak. Merasa tidak berdosa membunuhi ratusan ribu rakyat Palestina. Dan kini merasa tidak berdosa membunuhi ribuan rakyat Iran, termasuk anak-anak kecil di Iran.
Amerika dan Israel memang bangsa yang maju dalam ‘ilmu‘ dan teknologinya. Tetapi mereka bangsa yang bangkrut moralnya. Mereka bangsa yang minus jiwanya. Ilmu politik dan teknologinya maju, tapi ilmu psikologinya mundur dan kalah jauh dengan bangsa-bangsa lainnya.
Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, manusia pezina-pembohong-bengis, menunjukkan bangsa Amerika cacat moralnya. Begitu juga terpilihnya Benjamin Netanyahu sebagai Perdana Menteri, rasis dan pembunuh kejam, menunjukkan bangsa Israel bangsa yang bangkrut moralnya.
Ketika ilmu dipisahkan dengan wahyu, ilmu dipisahkan dengan moral, maka yang lahir adalah manusia-manusia yang pintar tapi licik. Pintar tapi kejam. Pintar tapi penipu.
Makanya dalam Islam, ilmu mesti disatukan dengan wahyu. Karena ilmu hakikatnya adalah pemberian dari Yang Maha Pencipta kepada makhluk ciptaannya. Nabi Adam makhluk pertama di muka bumi, mendapat ilmu yang pertama dari Allah Swt. Otak manusia yang merupakan anugerah dari Yang Maha Kuasa akan error kalau menentang wahyu yang dturunkan Allah (Al-Qur’an).
Al-Qur’an mengingatkan,
قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
“Mereka (para malaikat) berkata, “Maha Suci Engkau, tidak ada ilmu bagi kami selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. al Baqarah 32)
قُلْ إِنَّمَا الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya ilmu itu hanya ada di sisi Allah, dan aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas.’” (QS. al Mulk 26)
قَالَ إِنَّمَا الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ وَأُبَلِّغُكُمْ مَا أُرْسِلْتُ بِهِ وَلَٰكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ
“Ia berkata: “Sesungguhnya ilmu (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh”. (QS. al Ahqaf 23)
وَحَاجَّهُ قَوْمُهُ ۚ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِ ۚ وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلَّا أَن يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا ۚ وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا ۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ
“Dan kaumnya membantahnya. Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu hendak berdebat denganku tentang Allah, padahal Dia telah memberi petunjuk kepadaku? Dan aku tidak takut kepada apa yang kamu persekutukan dengan-Nya, kecuali jika Tuhanku menghendaki sesuatu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Ibrahim 80)






