LAPORAN KHUSUS

Prabowo-Sandi Tak Terbendung

Survei Litbang Kompas bagai Petir

Litbang Kompas mengumumumkan hasil survei mereka pada 20 Maret lalu. Bagai petir di siang bolong, saat itu Litbang Kompas mengumumkan berdasarkan survei mereka elektabilitas Jokowi-Ma’ruf tinggal 49,2 persen. Sementara Prabowo menanjak naik menjadi 37,4 persen. Margin of error (MoE) 2,2 persen, dan yang menyatakan rahasia 13,4 persen.

Angka ini merupakan tamparan telak bagi kubu petahana. Bagaimana mungkin, petahana yang memiliki segala macam sumber daya untuk pemenangan, ternyata elektabilitasnya di bawah 50 persen. Angka itu menunjukkan separoh lebih penduduk Indonesia tidak ingin lagi memilih Jokowi.

Padahal, angka 49,2 persen itu pun konon masih merupakan angka kompromi. Sebab seperti ditulis Hersubeno Arief, kabarnya salah seorang wartawan Kompas pernah menyampaikan kepada Koordinator Jubir BPN Dahnil Anzhar Simanjuntak bila angka yang belum menentukan pilihan adalah 17 persen.

Berapapun angka yang diumumkan, hasil survei Litbang Kompas ini bagai membuka mata publik. Bahwa lembaga-lembaga survei pro-Istana selama ini telah mempermainkan angka. Kompas juga memberikan arahan, bila hasil Pilpres 17 April mendatang masih akan dipengaruhi oleh rapat umum alias kampanye terbuka. Dan faktanya di lapangan, kampanye terbuka Prabowo-Sandi selalu pecah. Sebaliknya, kampanye yang dilakukan Jokowi-Ma’ruf maupun deklarasi pendukungnya, nampak sepi.

Prabowo di Purwokerto

Sebagai contoh, deklarasi Alumni Perguruan Tinggi Swasta Jabodetabek di Lapangan Tennis Indoor Senayan, ternyata hanya dihadiri seratusan orang saja. Padahal peserta ditargetnya empat ribu orang. Di Jambi, deklarasi relawan Bejo di Aula Kantor PDIP Provinsi Jambi hanya dihadiri 14 orang saja. Kampanye Jokowi di Makassar tak bisa lebih ramai dari Prabowo. Jika ada kampanye Jokowi atau Ma’ruf Amin yang nampak agak ramai, segera beredar gambar atau foto yang menjelaskan bila massa yang dikerahkan adalah massa tenaga kontrak atau honorer di pemerintahan. Juga berderet bus-bus plat merah.

Jika Jokowi-Ma’ruf tak terbendung dan selalu diunggulkan oleh lembaga survei, tetapi Prabowo-Sandi tak terbendung dan unggul di lapangan. Padahal lembaga survei pro-istana sudah meleset hasil survei mereka di Pilkada DKI Jakarta, Jabar dan Jateng.

Jokowi nampaknya sudah tidak menarik lagi. Citra sederhana dan merakyat tampak sudah tidak manjur lagi untuk menghipnotis masyarakat. Apalagi mencitrakan diri milenial, dia jelas kalah pamor dengan Sandiaga Uno.

Kecurangan

Eros Djarot, budayawan sekaligus mantan politisi PDIP yang kemudian mendirikan Partai PNBK, dalam artikel terbarunya menulis kebangetan bila petahana sampai kalah. Menurut Eros, dalam posisinya sebagai petahana, posisi Jokowi sangat diuntungkan. Apalagi, dalam Pilpres ini Jokowi tidak mengambil cuti untuk kampanye.

Menurut Eros, karena Jokowi petahana, maka berbagai fasilitas Negara yang melekat pada jabatannya dapat dengan mudah diakses untuk digunakan berkampanye. Meskipun secara resmi penggunaan fasilitas Negara dilarang, tetapi berbagai cara bisa ditempuh. “Hanya diperlukan sedikit kecerdasan agar semua dapat berjalan lancar dan bebas dari ‘sempritan’ pihak Bawaslu,” tulis Eros.

Dan benarlah apa yang ditulis Eros. Itulah yang terjadi di lapangan. Penggunaan fasilitas Negara, mobilisasi aparat, hingga kebijakan-kebijakan lain yang menguntungkan petahana semua dilakukan. Terbaru, aparat kepolisian yang seharusnya netral juga diindikasikan turut diseret untuk pemenangan petahana. Pengakuan mantan Kapolsek Pasirwangi, Kabupaten Garut, adalah salah satu bukti adanya pengarahan dari Kapolres kepada Kapolsek untuk mememenangkan 01. Sayangnya, pengakuan itu kemudian diralat.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button