Menyelami Makna Alhamdu Lillahi Rabbil Alamin
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mengucapkan lafal Alhamdulillah, terutama ketika kita mendapat kenikmatan, terhindar dari musibah dan sebagainya.
Setiap kali seorang muslim melafalkannya dalam Surah Al-Fatihah, ia sedang menegaskan bahwa seluruh pujian hanya milik Allah, Tuhan seluruh alam.
Kata al-hamd berarti pujian yang disertai dengan cinta dan pengagungan. Berbeda dengan sekadar syukr (terima kasih), hamd mencakup pengakuan atas kesempurnaan sifat Allah. Dalam ayat:
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)
Menurut Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur’an, kalimat ini adalah deklarasi universal: bahwa seluruh eksistensi tunduk pada sistem ilahi, dan seluruh pujian kembali kepada Allah karena Dia adalah sumber segala kebaikan.
Kata Sayid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur’an,
وَٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ قَاعِدَةُ ٱلتَّصَوُّرِ ٱلْإِسْلَامِيِّ، ٱلَّتِي تَرْبِطُ بَيْنَ ٱلْقَلْبِ ٱلْبَشَرِيِّ وَرَبِّهِ، وَتَرْبِطُ هَٰذَا ٱلْوُجُودَ كُلَّهُ بِخَالِقِهِ.
فَٱللَّهُ هُوَ رَبُّ هَٰذَا ٱلْوُجُودِ كُلِّهِ، وَهُوَ ٱلْقَائِمُ عَلَيْهِ، ٱلْمُتَصَرِّفُ فِيهِ، ٱلْمُدَبِّرُ لِشُؤُونِهِ، فَلَا يَخْرُجُ شَيْءٌ فِي هَٰذَا ٱلْكَوْنِ عَنْ مَشِيئَتِهِ وَتَقْدِيرِهِ.
وَمِنْ ثَمَّ فَإِنَّ ٱلْحَمْدَ لَهُ وَحْدَهُ، لِأَنَّهُ صَاحِبُ ٱلْفَضْلِ فِي كُلِّ مَا يَقَعُ فِي هَٰذَا ٱلْوُجُودِ.
وَحِينَ يَسْتَقِرُّ هَٰذَا ٱلْمَعْنَى فِي ٱلْقَلْبِ، يَسْتَشْعِرُ ٱلْإِنسَانُ ٱلطُّمَأْنِينَةَ وَٱلِٱنْسِجَامَ مَعَ ٱلْكَوْنِ كُلِّهِ، لِأَنَّهُ يَعِيشُ فِي ظِلِّ رَبٍّ وَاحِدٍ يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَ كُلَّهُ.
“Alhamdulillāhi Rabbil ‘Ālamīn adalah fondasi pandangan hidup Islam yang menghubungkan hati manusia dengan Tuhannya dan menghubungkan seluruh eksistensi dengan Penciptanya.
Allah adalah Rabb seluruh wujud ini; Dialah yang menegakkannya, mengatur, dan mengelola segala urusannya. Tidak ada sesuatu pun di alam semesta ini yang keluar dari kehendak dan ketetapan-Nya.
Karena itu segala puji hanya milik-Nya semata, sebab Dialah pemilik karunia dalam setiap kejadian di alam ini.
Apabila makna ini telah menetap di dalam hati, manusia akan merasakan ketenangan dan keharmonisan bersama seluruh alam, karena ia hidup di bawah naungan satu Rabb yang mengatur seluruh urusan.”
Sedangkan Imam Qurthubi dalam Al Jami‘ li Ahkamil Qur’an menyatakan,
ٱلْحَمْدُ هُوَ ٱلثَّنَاءُ عَلَى ٱلْمَحْمُودِ بِصِفَاتِهِ مِنْ غَيْرِ سَبَبٍ يَتَقَدَّمُهُ، وَٱلشُّكْرُ يَكُونُ عَلَى ٱلنِّعْمَةِ خَاصَّةً، فَٱلْحَمْدُ أَعَمُّ مِنَ ٱلشُّكْرِ؛ لِأَنَّهُ يَكُونُ عَلَى ٱلصِّفَاتِ ٱلذَّاتِيَّةِ وَعَلَى ٱلْأَفْعَالِ.
وَقِيلَ: ٱلْحَمْدُ هُوَ ٱلشُّكْرُ، وَٱلصَّحِيحُ ٱلْأَوَّلُ.
وَٱلْأَلِفُ وَٱللَّامُ فِي ٱلْحَمْدِ لِلِٱسْتِغْرَاقِ، أَيْ جَمِيعُ ٱلْمَحَامِدِ لِلَّهِ تَعَالَى.
وَقَوْلُهُ: لِلَّهِ، ٱخْتِصَاصٌ وَمِلْكٌ، لَا يَشَارِكُهُ فِيهِ غَيْرُهُ.
وَقَوْلُهُ: رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، ٱلرَّبُّ هُوَ ٱلسَّيِّدُ وَٱلْمَالِكُ وَٱلْمُدَبِّرُ وَٱلْمُرَبِّي، وَلَا يُطْلَقُ غَيْرُ مُضَافٍ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ تَعَالَى.
وَٱلْعَالَمُونَ جَمْعُ عَالَمٍ، وَهُمْ كُلُّ مَا خَلَقَ ٱللَّهُ تَعَالَى فِي ٱلدُّنْيَا وَٱلْآخِرَةِ.
وَسُمُّوا عَالَمًا لِأَنَّهُمْ عَلَامَةٌ عَلَى خَالِقِهِمْ.
“Al-hamd adalah pujian kepada yang dipuji atas sifat-sifat-Nya tanpa didahului oleh sebab tertentu, sedangkan syukur itu khusus atas nikmat. Maka al-hamd lebih umum daripada syukur, karena ia mencakup pujian atas sifat-sifat dzat dan juga perbuatan.






